Header AD


Cita-cita Orang Tuaku Bukan Cita-citaku Part 1


By : kurniawati 

Kala itu senja hanya ingin menampakkan warna orangenya ketika hujan hilang. Sayangnya Sang hujan tampaknya enggan pergi. Langit pun menjadi sangat hitam pekat oleh hujan.  Di tambah lagi dengan suara ocehan Emak yang tak henti-hentinya berkicau.
“ Tiap hari di bangunin terus. Ini udah mau margibh Elin….”, kata Mama.
“Iya mak. Jam segini masih subuh mak tanggung”, Jawab Elin sambil mengucek matanya.
“Apa ? Kamu bilang ini subuh ? Ini udah sore Elin”, Gumam Emak sambil mengambil jam wakker kecil Elin.
“ Ya ampun…. Kok emak gak bangunin Elin, Haduh. Elin kan mau ke Kampus. Yah gak masuk lagi deh Elin,” Gumam Elin kesal.
“Inikan hari minggu. Kuliah apa lagi sih Elin ? “, Tanya Emak.
                Elin hanya bisa melongok kaku tak berdaya ketika tau itu hari Minggu. Ia hanya bisa tersenyum dan berlalu menuju kamar mandi.
***
                Tak semua orang tau tipikal masing-masing individu. Kadang baik, kadang Jahat, Kadang dingin, Kadang diam-diam menghanyutkan. Makhluk yang bernama manusia ini merupakan ciptaan Tuhan yang unik dan memang susah sekali menebaknya. Selain itu cita-citanya pun juga sangat sulit kita tebak. Waktu kecil semua anak ketika duduk di bangku sekolah dasar pasti selalu di tanyakan oleh para guru mereka “Kalau sudah besar kalian mau jadi apa ?” . Satu persatu dari mereka pasti mengangkat tangan mereka. “ Ibu saya mau jadi dokter, Saya mau jadi seperti Ibu”, . Bermacam ragam jawaban pun di sebutkan dari bibir mungil anak sekolah dasar itu.
                Inilah Aku. Aku yang terperangkap oleh cita-cita orang tua. Bukan cita-citaku.  Bukan Aku tak pandai membaca alur dan keinginanku. Hanya saja Aku bingung di kala keinginanku bertolak belakang dengan realita yang ada. Dimana uang-uang seolah  berbicara dengan cara berbisik.
“ Hei, kamu bego. Omongan orang tuamu itu benar. Kamu ikuti saja omongan mereka. Masak kamu mau ikutin passionmu saja sih. Aku cuman di dapat di tempat yang memiliki waktu dan pekerjaan tetap. Bukan dari passionmu,”
Aku hanya bisa tak peduli bilamana uang berbicara lagi denganku. Bagiku uang hanya bonus. Yang terpenting bagaimana aku dan passionku berjalan. Itulah dedikasiku. Sayangnya semua itu tak terelakkan lagi. Uang kembali berbicara kepadaku.
“hei sudahlah. Kuliahmu lebih penting dari pada passionmu”.
Aku seolah-olah bingung di buat tak berdaya oleh uang. Dalam hati ini hanya bisa teriak. “Uang sudahlah. Aku capek,” jelasku.
Aku Elin. Elin yang suka dengan berbagai macam hal yang bisa membuat hati ini senang ketika melakukannya, tanpa paksaan, yah.. enjoy with your passion . Tidak semua orang yang bisa menikmati passionnya dengan leluasa.
***
                Saat itu di kamar Elin hanya bisa termenung sambil mendengarkan radio. Sesekali Elin melihat heandphonenya untuk mengcek chat. Akhirnya Elin mencoba untuk mengajak beberapa sahabatnya untuk nongkrong bareng di luar. Dengan sebuah chat akhirnya mereka saling bertemu.
***
                Sampai di Café….             
“ Hai Apa kabar ? Gimana nih pada sibuk gak ?” Tanya Elin sambil cipika – cipiki.
                “Ngak sibuk kok lin. Maklum kita semua kan anak konglomerat kelas atas semuanya. Makan tidur Makan tidur aja yach gak guys ?” Jawab Ayu.
                “Hahahah nikmatin hidup aja lin. Kita semua kaya gini asalkan kagak sombong aja hidup udah tenang,”  Celoteh Siska.
                “ Iya juga yah. Apalagi yang mau di pikirin. Pengusaha mah hidupnya enak banget. Usaha mah bisa di turunin ke anak-anaknya. Ouh iya. Kepengen ngadain acara nih. Lu mau gak ? ,” jelas Elin.
                “ Mau ngadain acara apa ? “, Tanya Cika.
Tiba – tiba Ayu memotong.
                “ Eh Lin. Lu atur aja dah. Paling males gua kalau rapat yang ada ngoceh – ngoceh gak jelas. Kita makan aja dulu kayaknya. Uang kita siapin kok. Tenang aja. Mbak sini…. “, jelas Ayu serambi memanggil pelayan restoran mewah.

***
                Sore itu, Ellin tengah sibuk mempersiapkan acara apa saja yang hendak dilaksanakan untuk mengisi penatnya hidup sebagai sosialita kelas atas yang cuman bisa makan tidur-makan tidur dan hang out terus. Maklumlah bisnis property Ayah mereka berempat sedang ranum-ranumnya berkembang.
                “ Ech, nih minum susu dulu,” jelasnya.
Bersambung…….
Cita-cita Orang Tuaku Bukan Cita-citaku Part 1 Cita-cita Orang Tuaku Bukan Cita-citaku Part 1 Reviewed by nia kurnia on 01:15 Rating: 5

No comments

Post AD